Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Mei 2017

Mengenang Kisah Cebongan, Solidaritas Anggota Kopassus Habisi Preman!

Waktu menunjukkan sekitar pukul 01.30 WIB. Tiba-tiba, pintu Lapas Cebongan diketok gerombolan orang tak dikenal dengan membawa senjata. Penjaga yang semula enggan membukakan pintu ketakutan begitu diancam bakal ditembaki oleh orang-orang tersebut.

Setelah pintu terbuka, seluruh ke-12 pelaku yang kemudian diketahui berasal dari Grup 2 Kandang Menjangan merangsek masuk ke dalam Lapas. Mereka sempat melakukan tembakan ke udara agar sipir dan napi yang lain tiarap.

Para pelaku meminta sipir menunjukkan sel di mana terdapat tahanan yang terlibat kasus penganiayaan anggota Kopassus hingga tewas di Hugo's Cafe. Kemudian, mereka berbagi tugas, beberapa di antaranya menyekap penjaga, dan empat sisanya masuk ke dalam sel.

Bermodal informasi dari sipir di mana para tahanan ditempatkan di sel 5A serta memberikan kunci selnya. Setibanya di sel, mereka kembali berbagi tugas, namun hanya satu yang menjadi eksekutor.

Begitu tiba di sel 5A, mereka menyuruh para tahanan untuk berkumpul. Kemudian seorang pelaku bertanya di mana kelompok Diki.

"Yang bukan kelompok Diki, minggir!" teriaknya.

Gertakan pelaku sempat disanggah salah satu tahanan, di mana orang yang dicari tak ada di sel tersebut. Mendengar itu, pelaku mengancam akan menembak semua tahanan. Akhirnya mereka pun memisahkan diri hingga tersisa tiga orang.

Para korban kemudian diminta berkumpul, kemudian ditembak hingga tewas. Setelah itu, pelaku menembak satu orang tahanan lagi.

Setelah menembak mati, para penembak memaksa 31 tahanan yang menyaksikan eksekusi bertepuk tangan. Begitu selesai, para pelaku pun pergi meninggalkan sel. Sebelum meninggalkan Lapas, mereka merusak CCTV dan mengambil rekaman CCTV.

Penyerangan berlangsung selama kurang lebih 15 menit, sementara penembakannya berlangsung selama 5 menit. Salah satu saksi melaporkan selama peristiwa berlangsung, ada seorang pelaku yang terus-menerus melihat jam di tangannya.

Para korban penembakan itu antara lain Hendrik Benyamin Angel Sahetapi alias Diki Ambon (31), Adrianus Candra Galaja alais Dedi (33), Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu alias Adi (29) dan Yohanes Juan Manbait alias Juan (38).

Beberapa jam setelah penembakan berlangsung, kasus penembakan terhadap empat tahanan langsung menjadi konsumsi nasional. Para pelaku diketahui menggunakan senapan serbu buatan Soviet AK-47.

"Pelaku menggunakan senapan laras panjang, AK 47," kata Dirjen Keamanan dan Ketertiban (Dir Kamtib) Kementerian Hukum dan HAM, Wibowo Joko di lokasi, Sabtu (23/3/2013) lalu.

Bahkan, dia berani menduga pelaku penyerangan dan penembakan empat orang tahanan Lapas berasal dari kalangan TNI. Sebab, senjata yang dimiliki termasuk kemampuan melakukan penyergapan hanya berasal dari kesatuan-kesatuan yang terlatih.

"Ya, kemungkinan, bisa saja (dari TNI). Karena yang punya senjata dan punya keterampilan seperti itu dari kesatuan yang sudah terlatih," ungkapnya.

Serda Ucok : Saya Akan Habisi Preman

Setelah berminggu-minggu melakukan penyelidikan, kasus tersebut kemudian diambil alih oleh Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabesad). Wadan Puspomad Brigjen Unggul K Yudhoyono mengumumkan pelaku penembakan Cebongan adalah 12 anggota Kopassus grup 2 Kandang Menjangan, Kartasura.

Setelah pengumuman itu, para pelaku kemudian ditangkap Polisi Militer TNI Angkatan Darat (Pomad) dan dijebloskan ke dalam penjara. Satu bulan berikutnya, mereka langsung diadili ke Pengadilan Militer di Yogyakarta.

Majelis hakim Pengadilan Militer Yogyakarta memvonis Serda Ucok Tigor Simbolon, pelaku utama penembakan di LP Cebongan, bersalah dengan hukuman 11 tahun penjara. Dia terbukti sebagai orang yang menggerakkan rekan-rekannya untuk menyerbu Lapas Cebongan dan membunuh 4 preman di dalam sel.

Selain itu, pengadilan juga memvonis Serda Sugeng Sumaryanto dan Kopral Satu Kodik dengan hukuman penjara 8 dan 6 tahun. Ketiganya pun dipecat dari kesatuan.

Dalam persidangan itu, majelis hakim juga memvonis lima terdakwa lain dengan hukuman penjara 1 tahun 9 bulan. Mereka adalah Sertu Tri Juwanto, Sertu Anjar Rahmanto, Sertu Martinus Robert Paulus Benani, Sertu Suprapto, dan Sertu Herman Siswoyo.

Majelis Hakim Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta menjatuhkan vonis 11 tahun penjara kepada eksekutor penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan Sleman, Serda Ucok Tigor Simbolon. Terhadap putusan ini, Serda Ucok mengaku sudah punya rencana setelah menjalani hukuman.

"Kalau setelah selesai hukuman saya akan tinggal di Yogya dan akan memberantas preman," kata Serda Ucok seusai sidang pembacaan vonis di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Kamis (5/9).

Saat keluar ruang sidang, dia dielu-elukan pengunjung sidang. Dia juga menegaskan akan banding. "Kami bertiga memutuskan untuk banding ke pengadilan tinggi militer," ujar Serda Ucok. 

Sebelum membacakan amar putusannya, hakim Letkot CHK Joko Sasmito menyampaikan hal-hal yang memberatkan terdakwa. Joko Sasmito mengatakan, di antara aspek pemberat tersebut adalah ketiganya melakukan perbuatan saat sedang menjalani latihan TNI, dan dilakukan di lembaga pemerintah Lapas Cebongan.

"Akibat dari perbuatan tersebut, mengakibatkan empat tahanan Lapas Cebongan tewas yang menimbulkan duka bagi keluarga korban, serta mengakibatkan trauma petugas Lapas Cebongan. Perbuatan terdakwa juga mencemarkan nama baik TNI," kata Joko di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Kamis (5/9).

Sedangkan hal-hal yang meringankan, di antaranya para terdakwa secara kesatria mengakui perbuatannya di depan Tim Investigasi TNI.

"Para terdakwa juga meminta maaf kepada pihak Lapas Cebongan, berterus terang memperlancar selama menjalani pemeriksaan, bersikap sopan saat menjalani persidangan. Para terdakwa juga berprestasi dan pengabdian sebagai anggota TNI, dan mendapat Satya Lencana dan kegiatan sosial masyarakat," tuturnya.

sumber : merdeka.com dan merdeka.com

Kamis, 27 April 2017

Antara LUCU dan TERHARU.! Kisah KOPASSUS Tidak Pernah Merasakan Pesawat LANDING!

Soal kemampuan tempur, prajurit Kopassus tak diragukan lagi. Namun banyak kisah menarik dan lucu dari polosnya mereka.

Salah satunya soal naik pesawat dan landing alias mendarat. Ada seorang prajurit yang begitu bahagia saat bisa merasakan pesawat landing.

Kisah ini dituturkan Pelda Sumardi alias Mardi Rambo. Dia seorang prajurit Kopassus yang memiliki kemampuan zeni demolisi. Mardi Rambo ini sudah 14 kali diturunkan di medan operasi. Sebuah rekor karena biasanya rata-rata prajurit Kopassus merasakan turun empat kali di medan operasi.

Nah, suatu hari Pelda Sumardi ditugaskan ke Bosnia yang saat itu sedang mengalami konflik berdarah. Buat orang lain, ditugaskan ke Bosnia ibarat mimpi buruk. Namun buat Pelda Sumardi ibarat mendapat durian runtuh.

"Sueeneng sekali ke Bosnia. Pesawat itu take off kemudian landing. Ternyata landing itu wueenaak sekali," kata Pelda Sumardi.

Apa istimewanya landing? Bukankah pesawat yang take off pasti landing? Tunggu dulu, itu hanya berlaku untuk orang sipil.

Rupanya selama ini Pelda Sumardi hanya merasakan pesawat lepas landas. Begitu pesawat di udara, dia selalu 'dibuang' alias diterjunkan dengan pesawat. Pantas saja, pengalamannya 14 kali turun ke medan operasi. Karena itu Mardi Rambo bahagia karena merasakan pesawat landing untuk pertama kali. 

Kisah lucu polosnya anggota Kopassus ini bukan satu-satunya. Simak kisah-kisah lucu lainnya yang dimuat dalam buku Kopassus untuk Indonesia yang ditulis Iwan Santosa dan EA Natanegara dan diterbitkan R&W.

sumber

Minggu, 26 Maret 2017

Petualangan BRUTAL Mayor Sabarudin. Pejuang yang Berlumuran Darah Temannya Sendiri!

Macan Sidoarjo adalah julukan warga Surabaya dan Sidoarjo pada Mayor Sabarudin selepas pecahnya revolusi nasional 1945. Zainal Sabarudin Nasution,nama lengkapnya, sangat ditakuti karena aksi teror dan berbagai tindakan brutalnya. Aneka kisah kekejamannya banyak dituturkan  orang dengan berbagai versi dan bumbu fantastis, tetapi tidak mengubah fakta, bahwa ia telah membunuh dan bertanggung jawab atas tewasnya sejumlah besar orang yang dituduh mata-mata musuh (Belanda). Fakta ini tidak saja dituturkan oleh pihak lawan dan orang awam, tetapi juga diakui oleh anak buahnya. 

Walaupun komandan mereka mempunyai citra dan reputasi buruk, namun kepemimpinannya dalam ketentaraan tetap dikaguni dan dihormati. Sabarudin, lahir tahun 1922. Bapaknya seorang jaksa. Ibunya menikah lagi setelah menjanda dengan seorang Belanda bernama Knoop. Sabarudin dengan kakak laki-lakinya yang setahun lebih tua, Djalaluddin, tumbuh bersama bapak sambungannya. Setelah lulus MULO (SLTP) ia bekerja sebagai jurutulis di kantor Kabupaten Sidoarjo dan sebagai pemegang buku suatu perkebunan tebu. Cerita kekejaman Sabarudin , dimulai saat ada bekas Chudancho bernama Suryo,  putra Suwongso seorang pegawai menengah di Kantor Residen Surabaya jaman Belanda, ditangkap para pemuda dan diserahkan kepada komandan PTKR (Polisi Tentara Kemananan Rakyat).  

Karena Suryo anak orang terpandang dan pernah ikut jambore ke Belanda serta ada foto bersalaman dengan Ratu Wilhelmina, Suryo dianggap mata-mata dan ditawan oleh pemuda. Tapi akhirnya oleh komandan PTKR, Suryo dibebaskan. Setelah bebas, Suryo yang ternyata juga bekas tentara PETA pada jajaran BKR (Badan Keamanan Rakyat) Jawa Timur pimpinan Mustopo, membantu Suharyo ke gudang senjata dan mengambil mitraliur  berat kaliber 12,7 mm dan mitraliur kaliber 7,7/303 L.E. Tapi dua hari kemudian, Suryo ditangkap Sabarudin (bekas Shodancho) yang juga bekas PETA (anak buah Suryo sendiri). Sabarudin saat itu adalah komandan PTKR daerah Karesidenan Surabaya. Tanpa melalui proses hukum, Suryo dihukum mati dengan tuduhan sebagai mata-mata Belanda. Eksekusinya dilakukan secara terbuka di alun-alun Sidoarjo. Sabarudin sendiri yang mengeksekusi dengan menembak Suryo dengan pistol. Dua anak buahnya yang kemudian memenggal Suryo. Tak seorangpun yang berani menegur aksi Sabarudin yang sewenang-wenang. Saat itu, bila orang mendengar nama Sabarudin,  sudah ngeri duluan.

 Doel Arnowo melukiskan wajah sabarudin amat menakutkan. Terlebih saat marah, maka kebengisan terpancar dari sorot matanya. Konon, nama Jenderal Soedirman dan Letjen Oerip Soemohardjo pun tidak membuat Sabarudin keder! 

Motif Sabarudin mengeksekusi Suryo sebenarnya masalah pribadi. Saat bekerja di kantor  sebagai juru tulis, Suryo adalah atasan Sabarudin. Keduanya bersaing memperebutkan gadis cantik  puteri Bupati Sidoarjo. Suryo lebih beruntung karena berpendidikan OSVIA. Sejak itulah hubungan keduanya mendingin dan jadi dendam kesumat. Saat Jepang menduduki Indonesia, nasib mempertemukan Suryo dan Sabarudin dalam satu batalyon (daidan) PETA, yaitu daidan III Buduran Sidoarjo, pimpinan Mohamad Mangundiprojo. Suryo jadi Chudancho (komandan kompi) dan Sabarudin jadi komandan peleton (Shodancho), namun beda kompi. Seiring perjalanan waktu, dimana saat itu suasana demikian genting  karena terjadi perebutan kekuasaan antara pemuda dan Jepang, nama Sabarudin pun melejit. 

Namun, seiring bergeraknya revolusi, watak dan sikap Sabarudin pun berubah. Sebagai salah satu komandan pasukan di Surabaya, Sabarudin paling sering datang ke Markas BKR Jawa Timur untuk meminta dana perjuangan.  Dan, Mayor Jenderal Mohamad  Mangundiprojo, sebagai bendahara menggantikan Suryo menolak memberi  sebelum Sabarudin dapat mempertanggung jawabkan  uang yang telah diterima sebelumnya. Timbulah pertikaian diantara keduanya. Kemudian Sabarudin menyebar fitnah bahwa Mohamad adalah orang yang korup dan dituduhnya sebagai  mata-mata Belanda. Mohamad mulanya diam saja. Namun, begitu mendengar Bupati Sidoarjo dan Mojoketo juga ditawan Sabarudin, kesabarannya pun habis. Sebagai ketua DPRI (Dewan Pertahanan Rakyat Indonesia), Mohamad membuat surat perintah penangkapan Sabarudin. Itupun tak mempan sehingga Mohamad pun ke MBT (Markas Besar Tentara) di Yogyakarta untuk menyelesaikan masalah. Di MBT (Markas Besar Tentara), Sabarudin yang dikenal memiliki pasukan yang kuat, dengan senjata lengkap dan anggota kompak, mampu mengatasi semuanya.  Bahkan saat Mohamad yang saat itu lapor ke MBT di Jogja, ditangkap dan dianiaya. 

Tanpa sepengetahuan perwira di MBT. Lalu Sabarudin pun membawa Mohamad kembali ke Jawa Timur. Presiden pun sempat mendengar keributan di markas MBT dan menugaskan TKR Divisi VI pimpinan Kolonel Soediro menyelamatkan Mohamad. Soediro memerintahkan Resimen Madiun (pimpinan Letkol Sumantri) dan Resimen Kediri (pimpinan Surachmad) mencegat konvoi Sabarudin. Gagal dicegat di Madiun, akhirnya Sabarudin berhasil dicegat pasukan Surachmad di jembatan Kertosono. Pasukan Surachmad yang melakukan pencegatan itu adalah kompi Polisi Tentara pimpinan Kapten Heri Harsono. 

Akhirnya Mohamad diselamatkan dan Sabarudin dibiarkan kembali ke markasnya di Pacet, Mojokerto. Konon, di Pacet Mojokerto yang jadi markas PTKR Sabarudin, ada tawanan nonik-nonik Belanda yang diinternir oleh Jepang yang dijadikan  harem oleh Sabarudin. Mereka menempati bungalow indah bekas milik Belanda. Sebelum di Pacet, mereka bermarkas di Tretes, Pasuruan. Mengingat kebrutalan Sabarudin, dua hari setelah peristiwa penculikan Mohamad, DPRI mengerahkan pasukan gabungan menyerang markas Sabarudin di Pacet. Pasukan gabungan ini terdiri dari Pasukan Perjuangan Polisi (P3), Pesindo, Hizbullah dan Laskar Minyak. Mohamad Yasin selaku pimpinan P3 mendapat perintah langsung dari Panglima Jenderal Soedirman untuk memimpin penyerangan. 

Sabarudin sempat lolos tapi akhirnya disergap di simpang empat Mojosari, Mojokerto  dan dikirm ke penjara Wirogunan Yogyakarta. Belum sempat disidangkan, terjadi Agresi I Belanda. Sabarudin pun lepas dari penjara. Dalam waktu singkat dia berhasil mengumpulkan ex anak buahnya sampai kira-kira satu kompi dan membentuknya menjadi “Laskar Rencong”. Sabarudin kembali ke Jawa Timur dan memulai petualangannya. Termasuk berteman akrab dengan Tan Malaka. Pemberontakan PKI Madiun 18 September 1948, memberi peluang bagi Sabarudin untuk merehabilitasi namanya. Kesatuannya diakui sebagai Batalyon 38 dalam Brigade Surachmad. Diapun mendapatkan kembali pangkat Mayornya. Brigade 29 Letnan Dachlan yang merupakan salah satu kekuatan militer PKI (yang memberontak di Madiun) yang frustasi pun dapat dilumpuhkan oleh Sabarudin. 

Prestasi Sabarudin pun dipuji oleh pemerintah dan pimpinan tentara. Namun lagi-lagi terjadi keonaran di tubuh tentara. Tiga perwira TNI di Kediri tewas ditangan pasukan Sabarudin. Puncaknya, Kolonel  Sungkono, sebagai pimpinan tentara di Jawa Timur memerintahkan kesatuan CPM untuk menangkap Sabarudin. Di tangan kesatuan inilah, Sabarudin tamat riwayatnya. Demikian, cuplikan kisah dari buku Petualangan Mayor Sabarudin, Rekam jejak Aksi Brutal Perwira Pejuang 1945-1950 yang ditulis oleh Suparto Brata. Buku ini ditulis tidak untuk mendeskriditkan tokoh tertentu atau mereduksi jasa kepahlawanan prajurit pada masa perjuangan. Namun lebih sebagai upaya pembelajaran bagi generasi muda Indonesia bahwa realitas kejujuran sejarah bangsa tidak selalu bersinar. Bisa saja buram dan berkerak! Judul Buku Petualangan Mayor Sabarudin Rekam Jejak Aksi Brutal Perwira Pejuang 1945-1950 Penulis Suparto Brata Editor Affan Rasyidin Penerbit CV Litera Media Venter (LMC) Surabaya Tebal iii-92 halaman Cetakan Cetakan I,  Nopember 2011

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/www.teguhhariawan/jejak-aksi-brutal-perwira-pejuang-mayor-sabarudin_55287d11f17e6178548b45c5 

Jumat, 24 Maret 2017

Kisah HEROIK Muhammad Toha, Pemuda 19 Tahun Sang Penyulut Bandung LAUTAN API!

Bandung, 24 Maret 1946. Udara dingin malam itu tak menyurutkan semangat dua orang pemuda Republik untuk menguji nyali mereka: membumihanguskan kota tercinta. Berbekal granat tangan, mereka bermaksud meledakkan 1.100 ton bubuk mesiu di gudang persenjataan milik Jepang di daerah Dayeuh Kolot, Bandung selatan. Dua pemuda itulah yang kemudian diabadikan sejarah dengan nama Muhamad Toha dan Muhamad Ramdan.

Pada hari itu Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) telah memutuskan Kota Bandung akan dibumihanguskan supaya tentara sekutu tidak bisa memanfaatkan fasilitas kota yang ditinggalkan warga dan tentara Republik. Keputusan musyawarah tersebut diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Panglima Divisi III/ Priangan. Beliau juga meminta sekitar 200 ribu warga Bandung ketika itu untuk meninggalkan kota. Mohamad Toha dan Mohamad Ramdan diutus untuk melaksanakan tugas heroik itu.

Sebelumnya pada 21 November 1945, tentara sekutu menyampaikan ultimatum pertama agar Bandung utara dikosongkan oleh Indonesia selambat-lambatnya pada 29 November 1945.

Ancaman itu membuat pejuang Republik geram. Sejak itu sering terjadi insiden baku tembak antara pasukan sekutu dan pejuang Republik. Karena kalah persenjataan, tentara republik akhirnya tidak berhasil mempertahankan Bandung utara. Hingga pada 23 Maret 1946, dua hari sebelum peristiwa Bandung Lautan Api, tentara sekutu menyampaikan ultimatum kedua dengan menuntut Tentara Republik Indonesia (TRI) mengosongkan Bandung selatan.

Pada saat itu Menteri Keamanan Rakyat Amir Sjarifuddin mendatangi Bandung dan memerintahkan TRI untuk mengosongkan kota. Meski dengan berat hati perintah itu dipatuhi. Namun sebelum meninggalkan Bandung, TRI melancarkan serangan ke pos-pos tentara sekutu.

Di tengah pertempuran hebat pejuang Republik melawan tentara sekutu itulah sosok pemuda 19 tahun, Mohammad Toha dan teman seperjuangannya Mohammad Ramdan berhasil menjalankan misi meledakkan gudang mesiu sehingga menjadikan kota Bandung diselimuti api berkobar. Peristiwa itu disebut Bandung Lautan Api. Keduanya rela mengorbankan nyawa ikut gugur dalam ledakan dahsyat itu.

Seperti apakah sosok Muhammad Toha?

Dilahirkan di Jalan Banceuy, Kota Bandung, pada 1927, Toha tumbuh menjadi anak yatim karena ayahnya, Suganda meninggal dunia. Ibunya, Nariah, kemudian menikah lagi dengan Sugandi, adik ayah Toha. Namun pernikahan itu berakhir cerai. Toha akhirnya diasuh kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu Jahiri dan Oneng.

Toha masuk Sekolah Rakyat pada usia tujuh tahun hingga kelas 4. Ketika Perang Dunia Kedua pecah, sekolah Toha terpaksa terhenti.

Saat Jepang menjajah, Toha bergabung menjadi anggota pasukan Seinendan. Dia juga sempat bekerja di bengkel motor di Cikudapateuh. Selanjutnya Toha belajar menjadi montir mobil dan bekerja di bengkel kendaraan militer Jepang sehingga dia mampu berbincang dalam bahasa Jepang.

Setelah Indonesia merdeka Toha kemudian bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakyat Indonesia (BRI), yang dipimpin oleh Ben Alamsyah, paman Toha sendiri. BRI selanjutnya digabungkan dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dalam laskar ini Toha menjadi Komandan Seksi I Bagian Penggempur.

Menurut keterangan Ben Alamsyah, paman Toha, dan Rachmat Sulaeman, tetangga Toha, dan juga komandannya di BBRI, pemuda Toha adalah seorang yang cerdas, patuh kepada orang tua, memiliki disiplin yang kuat serta disukai oleh teman-temannya. Pada saat itu orang-orang menggambarkan Toha sebagai pemuda pemberani dengan muka lonjong, perawakan sekitar 165 sentimeter dan sorot matanya tajam.

Keberanian dan kerelaan berkorban kedua pemuda belia namun pemberani itu hingga kini dikenang menjadi dua nama jalan di Kota Bandung. [tts]

Kamis, 23 Maret 2017

HEROIK.! Tak Mau Pergi, Kiai As'ad Langsung TAMPAR Komandan Pasukan Jepang!

Kisah pengusiran serdadu Jepang dari bumi Garahan, Jember tak lepas dari keberanian dan wibawa Kiai As’ad Syamsul Arifin selaku Komandan Hizbulloh Kawasan Timur Indonesia. Saat itu, begitu pasukan gerilya tiba di markas serdadu Jepang, Kiai As’ad langsung menemui komandan serdadu negara matahari terbit itu, dan memberikan ultimatum; segera angkat kaki atau dihancurkan.

Namun dia rupanya masih berkelit, bahkan minta waktu 3 bulan untuk pergi. Kiai As’ad tidak mau dikibuli, dan hanya memberi waktu 3 hari pada Jepang untuk pulang ke negaranya.

Saat hari ketiga habis, Kiai As’ad kembali menemui komandan Jepang. Tapi dia masih belum juga mau pergi dengan baragam alasan, Kiai As’ad pun marah. Dan tanpa babibu, beliau menampar muka sang komandan. Sejurus kemudian, Kiai As’ad menggebrak meja yang ada di depan sang komandan, dan meja itu pun patah jadi dua.

Cerita tersebut diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshoamd saat memberikan sambutan dalam acara “Jember Bershalawat Dalam Rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Tasyakuran Pemberian Gelar Pahlawan Nasional KHR. As’ad Syamsul Arifin” di alun-alun Jember, Senin malam (19/12).

Menurut Kiai Muhyiddin, kisah ditamparnya Komandan Jepang tersebut menunjukkan betapa Kiai As’ad mempunyai wibawa dan keberanian yang luar biasa. Bisa dibayangkan, seorang komandan yang begitu dihormati  anak buahnya, tiba-tiba ditampar di depan mereka, dan dia tidak melawan. “Itu karena Kiai As’ad biasa berpuasa, tirakat sehingga mudah mendapatkan  pertolongan dari Allah,” ucapnya.

Setelah sambutan Kiai Muihyiddin, lantunan shalawat benar-benar membaha di langit Jember. Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin yang memimpin pembacaan shalawat dan diiringi oleh musik hadrah, cukup piawai juga. Sesekali ia menerangkan kehebatan Rasulullah SAW.

Kendati hujan rintik-rintik masih turun, namun peserta shalawat yang memadati separuh lapangan, tak beringsut dari tempat duduknya. Mereka tetap khidmat bershalawat hingga hampir memasuki paruh malam.

Acara tersebut juga dihadiri oleh cucu Kiai As’ad, Uswatun Hasanah. Bahkan kakak Ra Azaim Ibrahimy tersebut juga sempat memimpin lantunan shalawat. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

sumber : nu.or.id

Minggu, 12 Maret 2017

Sang "IZRAIL" Iwan Murtado, Eks Tentara Elit yang Jadi Pembunuh Bayaran Paling Ditakuti!

Membuka lembaran kelamnya terasa sulit. Pengalamannya sebagai pembunuh bayaran sebagian sudah terkikis usia. Iwan Cepi Murtado, 71 tahun, berkaus hijau kusam dengan tulisan Yon Serna Trikora di bagian dada dulunya tentara elite pada 1960-an.

Rumahnya di tengah gang sempit di Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat. Dia menjadi tentara setelah lulus dari Sekolah Keterampilan Negeri (SKN) di daerah Kampung Jawa. "Waktu itu ada penerimaan 20 ribu tentara di Jakarta. Saya iseng-iseng coba ternyata masuk," kata Iwan kepada merdeka.com di kediamannya Jumat pekan lalu.

Iwan tergabung dalam pasukan Raider dan digembleng di wilayah Sukoharjo, Jawa Tengah, selama enam bulan. Kembali ke ibu kota, pria sekarang bercucu tiga ini bertugas menumpas gerakan komunis di sekitar Malang, Jawa Timur. "Karena jiwa nakal saya tak pernah hilang, usai kembali bertugas saya tak pernah lapor pada kesatuan, lebih milih turun kembali ke jalanan," ujar lelaki berkumis dan berambut uban ini.

Memasuki 1970-an, Iwan mulai menapaki dunia kejahatan. Latar belakang sebagai bekas prajurit sangat berpengaruh dengan pekerjaan melenyapkan nyawa manusia. Mental membunuh sudah ditempa sejak dia memburu gerakan separatis komunis. Dia sudah tak bisa mengingat puluhan pemberontak diburu hingga tewas.

Iwan hanya sumringah sambil menundukkan kepala. "Tapi itu (pengalaman saya sebagai prajurit) jelas membantu saya secara teknis, bagaimana membaca situasi, strategi, dan eksekusi korban-korban saya," tuturnya.

Pesanan pertamanya adalah membunuh seorang pengusaha. Tugas itu dia peroleh lewat perantara. Selama sepekan dia membaca gerak-gerik target dari kediaman sampai kantor korban di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan. "Tak lama, masih berada di dalam mobil, usai pulang kantor saya menikam korban pada bagian dada. Lalu saya tinggal pergi," katanya mengingat.

Iwan biasanya melakoni tugasnya bersama satu orang. Desertir ini bertugas mengeksekusi dan rekannya menjadi joki kendaraan. Uniknya, sang asisten dipastikan selalu berganti saban kali membunuh. "Waktu target itu, saya diboncengin motor langsung kabur. Sempat dikejar sama beberapa orang tapi berhasil lolos," ujarnya.

Untuk upah pertamanya, bapak tiga anak ini mendapatkan Rp 5 juta sekali tugas. Waktu itu jumlahnya tergolong besar, namun perantara ikut memotong bayaran membunuh. "Biasalah itu, terima bersih Rp 3 juta. Saya bagi ke teman, paling bawa Rp 2 juta," katanya. Dia membandingkan pada tahun 1970-an harga satu mobil taksi Rp 400 ribu.

Dari total tujuh korban, Iwan mampu melenyapkan target tanpa jejak. Dia mengaku lihai menggunakan berbagai senjata untuk menghabisi target pemesannya. Mulai dari senjata api, tajam hingga hanya memakai seutas tali. Pengalaman sebagai eks tentara baret hijau membantu dalam perjalanannya sebagai pembunuh bayaran.

Jika berbicara tentang pendekar, tokoh yang paling identik dengan julukan tersebut mungkin adalah Si Pitung. Meski hingga saat ini, tidak diketahui apakah Si Pitung benar-benar ada ataukah hanya tokoh fiksi, namun dialah pendekar yang ceritanya paling lekat di hati masyarakat.

Di dunia nyata, sebetulnya terdapat sosok yang mirip sekali dengan Si Pitung, yaitu Murtado si Macan Kemayoran. Ia memiliki kemampuan silat yang tiada tandingannya, dipercaya sebagai mandor pada masa Belanda, namun mengkhianati mereka dengan mencuri persediaan pangan Belanda dan memberikannya pada kaum Pribumi. Sudah semacam Robinhood versi Indonesia saja, ya.

Si Macan Kemayoran memiliki keturunan yang tidak kalah hebatnya, yaitu Iwan Cepi Murtado. Iwan memang tidak memiliki kemampuan silat, tapi ia sangat cermat, cerdas, dan bengis. Ia bisa melakukan apa yang ia inginkan secara rapi dan tidak diketahui siapa-siapa. Berbeda dengan ayahnya, ia menggunakan kemampuan tersebut untuk perbuatan jahat.

Si Pembunuh Bayaran

Saat masih anak-anak, Iwan sudah pernah dijebloskan ke penjara karena membunuh. Ini tidak membuatnya jera. Di tahun 1970-an, Iwan kembali melakukan perbuatan tak bermoral tersebut. Ia mendapat pesanan dari orang-orang kaya untuk membunuh saingan bisnis mereka.

Sebelum hari pembunuhan, Iwan melakukan perencanaan terlebih dahulu. Ia menguntit calon korbannya selama tujuh hari tujuh malam tanpa tidur. Dibacanya gerak-gerik korban dan perilakunya dari rumah hingga kantor. Pada hari H iya langsung menikam korban dan melenyapkan jasadnya.
Untuk eksekusi, Iwan dibantu oleh seorang kawan yang disebut dengan pilot. Tugas pilot adalah menyetir mobil yang digunakan untuk membawa jenazah korban ke tempat pembuangan. Pilot adalah orang kepercayaan Iwan yang mahir dalam membawa kendaraan.

Sang Jutawan

Sekali membunuh, Iwan bisa mendapatkan upah 5 juta Rupiah. Di tahun 70-an, jumlah itu sangatlah banyak. Bahkan lebih banyak dari harga sebuah mobil. Jumlah yang menggiurkan itu membuat Iwan tidak ragu-ragu dalam menerima pesanan. Sebelum masuk penjara, ia telah menghabisi nyawa tujuh orang.

Pembunuhan terakhir yang ia lakukan adalah pesanan dari orang Sekretariat Negara di tahun 1980-an. Korban adalah istri muda pejabat yang dibunuh dengan tali tambang. Upah dari pembunuhan ini mencapai Rp 100 juta! Meski begitu, tindakannya ini membuat Iwan harus mendekam di penjara selama satu dekade. Ia sedang sial karena mayat yang buangnya tersangkut sehingga cepat ditemukan oleh warga dan segera diusut kasusnya.

Latar Belakang Militer

Sebelum berprofesi sebagai pembunuh bayaran, pria yang terlahir dengan nama Muhammad Ikhwan ini bekerja sebagai tentara yang ditugaskan di Malang, Jawa Timur. Ia mengaku gaji tentara sangatlah kecil sehingga memutuskan untuk kabur saja.


Pengalamannya di militer membuat Iwan pandai mengatur strategi, memata-matai, dan mengeksekusi korban. Memang pada saat ia masih menjadi prajurit, ia sering ditugaskan untuk membunuh antek komunis. Kemampuannya dalam mengincar dan membunuh sangatlah tajam. Ia juga tidak memiliki rasa belas kasihan karena terlalu sering menghabisi nyawa orang.

Kehidupan Iwan berubah sejak ia memiliki keluarga. Hatinya menjadi luluh berkat anak perempuannya, Ade Naziha. Ia tidak lagi mau membunuh orang. Meski banyak yang memintanya untuk kembali melakukan tindakan kriminal, Iwan menolak dan memilih untuk memiliki pekerjaan halal. Ia pun turut mendirikan Lembaga Macan Kemayoran yang fokus pada kegiatan sosial.

sumber : merdeka.com dan boombastis.com

silahkan di share

Syeikh YUSUF, Pejuang Asal MAKASSAR yang Diangkat Jadi Pahlawan di Afrika Selatan!

“Saya melangkah masuk dan tertegun melihat makam berpagar besi ukir, bertutup kain hijau. Di sini berkubur pada usia 73, seorang ilmuwan, sufi, pengarang, dan komandan pertempuran abad ke-17, sesudah 16 tahun menjalani pembuangan. Kampung halamannya terletak di seberang dua samudra, berjarak 12 ribu kilometer jauhnya. Saya tertunduk dan menggumamkan Al Fatihah untuk pejuang besar ini. Beliaulah Syekh Yusuf al-Makassari al-Bantani”

Demikianlah kata-kata indah Taufiq Ismail terukir indah di buku bertajuk Syekh Yusuf, seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang yang ditulis oleh Abu Hamid. Ia mengguratkan catatan usai mengunjungi sebuah bukit di kawasan Faure, Desa Macassar, Afrika Selatan, di musim gugur Bulan April 1993

Nama lengkapnya Tuanta Salamka ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni. Tapi, ia lebih populer dengan sebutan Syekh Yusuf. Sejak tahun 1995 namanya tercantum dalam deretan pahlawan nasional, berdasar ketetapan pemerintah RI.

Kendati putra Nusantara, namanya justru berkibar di Afrika Selatan. Ia dianggap sebagai sesepuh penyebaran Islam di negara di benua Afrika itu. Tiap tahun, tanggal kematiannya diperingati secara meriah di Afrika Selatan, bahkan menjadi semacam acara kenegaraan. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel, menjulukinya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’. Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, tanggal 03 Juli 1626 dengan nama Muhammad Yusuf. Nama itu merupakan pemberian Sultan Alauddin, raja Gowa, yang merupakan karib keluarga Gallarang Monconglo’E, keluarga bangsawan dimana Siti Aminah, ibunda Syekh Yusuf berasal. Pemberian nama itu sekaligus mentasbihkan Yusuf kecil menjadi anak angkat raja. Ia belajar mengaji pertama kali kepada Daeng Ri Tassamang, guru kerajaan, dilanjutkan dengan pendalaman bahasa Arab, ilmu fikih, dan tasawuf. Ia juga berguru pada syekh terkenal di Makassar saat itu, Sayyid Ba-lawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Jalaludin Al-Aydit. Ketika berusia 18 tahun, ia berangkat ke Banten, sebelum melanjutkan perjalanan ke Aceh. Di sana ia bersahabat dengan putra mahkota Kerajaan Banten, Pengeran Surya. Di Aceh ia berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri, sampai mendapat ijazah Tariqat Qodiriyah. 

Dari Aceh ia berangkat ke Yaman dan berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi sampai mendapat ijazah Tareqat Naqsabandiyah. Ijazah tarekat Assa’adah Al Ba’laiyah juga diperolehnya dari Sayyid Ali Al-Zahli. Ia juga melanglang ke se-antero Jazirah Arab untuk belajar agama. Gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah, diperolehnya saat berguru kepada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi dari Syam (Damaskus).

Terlibat pergerakan nasional

Setelah hampir 20 tahun menuntut ilmu, ia pulang ke kampung halamannya, Gowa. Tapi ia sangat kecewa karena saat itu Gowa baru kalah perang melawan Belanda. Di bawah Belanda, maksiat merajalela. Setelah berhasil meyakinkan Sultan untuk meluruskan pelaksanaan syariat Islam di Makassar, ia kembali merantau. Tahun 1672 ia berangkat ke Banten. Saat itu Pangeran Surya sudah naik tahta dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Di Banten ia dipercaya sebagai mufti kerajaan dan guru bidang agama. Bahkan ia kemudian dinikahkan dengan anak Sultan, Siti Syarifah. Syekh Yusuf menjadikan Banten sebagai salah satu pusat pendidikan agama. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah, termasuk di antaranya 400 orang asal Makassar di bawah pimpinan Ali Karaeng Bisai. Di Banten pula Syekh Yusuf menulis sejumlah karya demi mengenalkan ajaran tasawuf kepada umat Islam Nusantara. Seperti banyak daerah lainnya saat itu, Banten juga tengah gigih melawan Belanda. Permusuhan meruncing, sampai akhirnya meletus perlawanan bersenjata antara Sutan Ageng di satu pihak dan Sultan Haji beserta Kompeni di pihak lain. 

Syekh Yusuf berada di pihak Sultan Ageng dengan memimpin sebuah pasukan Makassar.Namun karena kekuatan yang tak sebanding, tahun 1682 Banten menyerah. Maka mualilah babak baru kehidupan Syekh Yusuf; hidup dalam pembuangan. Ia mula-mula ditahan di Cirebon dan Batavia (Jakarta), tapi karena pengaruhnya masih membahayakan pemerintah Kolonial, ia dan keluarga diasingkan ke Srilanka, bulan September 1684. Bukannya patah semangat, di negara yang asing baginya ini ia memulai perjuangan baru, menyebarkan agama Islam. Dalam waktu singkat murid-muridnya mencapai jumlah ratusan, kebanyakan berasal dari India Selatan. Ia juga bertemu dan berkumpul dengan para ulama dari berbagai negara Islam. Salah satunya adalah Syekh Ibrahim Ibn Mi’an, ulama besar yang dihormati dari India. Ia pula yang meminta Syekh Yusuf untuk menulis sebuah buku tentang tasawuf, berjudul Kayfiyyat Al-Tasawwuf. Ia juga bisa leluasa bertemu dengan sanak keluarga dan murid-muridnya di negeri ini. Kabar dari dan untuk keluarganya ini disampaikan melalui jamaah haji yang dalam perjalan pulang atau pergi ke Tanah Suci selalu singgah ke Srilanka. Ajaran-ajarannya juga disampaikan kepada murid-muridnya melalui jalur ini. Hal itu merisaukan Belanda. Mereka menganggap Syekh Yusuf tetap merupakan ancaman, sebab dia bisa dengan mudah mempengaruhi pengikutnya untuk tetap memberontak kepada Belanda. Lalu dibuatlah skenario baru; lokasi pembuangannya diperjauh, ke Afrika Selatan.

Menekuni jalan dakwah  di Afrika selatan
Bulan Juli 1693 adalah kali pertama bagi Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya menginjakkan kaki di Afrika selatan. Mereka sampai di Tanjung Harapan dengan kapal De Voetboog dan ditempatkan di daerah Zandvliet dekat pantai (tempat ini kemudian disebut Madagaskar). Di negeri baru ini, ia kembali menekuni jalan dakwah. Saat itu, Islam di Afrika Selatan tengah berkembang. Salah satu pelopor penyebaran Islam di Imam Abdullah ibn Kadi Abdus Salaam atau lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru (mister teacher). Tuan Guru lahir di Tidore. Tahun 1780, ia dibuang ke Afrika Selatan karena aktivitasnya menentang penjajah Belanda. Selama 13 tahun ia mendekam sebagai tahanan di Pulau Robben, sebelum akhirnya dipindah ke Cape Town. Kendati hidup sebagai tahanan, aktivitas dakwah pimpinan perlawanan rakyat di Indonesia Timur ini tak pernah surut. Jalan yang sama ditempuh Syekh Yusuf. Dalam waktu singkat ia telah mengumpulkan banyak pengikut. Selama enam tahun di Afrika Selatan, tak banyak yang diketahui tentang dirinya, sebab dia tidak bisa lagi bertemu dengan jamaah haji dari Nusantara. Usianya pun saat itu telah lanjut, 67 tahun. Ia tinggal di Tanjung Harapan sampai wafat tanggal 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun.

sumber : santri.net

MENGHARUKAN, Ketika SUKARNO dan SYEKH YUSUF Jadi Pahlawan di Afrika Selatan!

Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma, berkunjung ke kediaman Presiden ke-5 RI, Megawati Sukarnoputri yang bertempat di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta. Kegiatan tersebut ia lakukan seusai menghadiri KTT Indian Ocean Rim Association (IORA) 2017.

Dalam kesempatan itu, Zuma membahas sejumlah hal dengan Megawati, termasuk sejarah panjang yang telah terjalin antara Indonesia dengan Afrika Selatan.

Seperti disampaikan Megawati, Afrika Selatan telah menjadikan dua orang Indonesia sebagai pahlawan negaranya. Pertama adalah Presiden pertama RI Sukarno dan satu lainnya adalah Syekh Yusuf, pejuang dari Kesultanan Gowa Sulawesi Selatan yang dibuang pada masa penjajahan ke Afrika Selatan.

Gagasan pemberian gelar pahlawan tersebut muncul ketika Megawati yang kala itu masih menjabat sebagai Presiden RI, melakukan kunjungan ke Afrika Selatan dan bertemu dengan Nelson Mandela.

Lalu, apa alasan Sukarno dan Syekh Yusuf memperoleh gelar pahlawan di Afrika Selatan?

Pemberian gelar pahlawan kepada Sukarno berkaitan erat dengan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar pada 18 hingga 25 April 1955 di Bandung. Konferensi tersebut memberi dampak bagi Afrika Selatan yang kala itu belum menjadi negara republik.

"Peristiwa yang sangat penting dan menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan Afrika Selatan, ketika pada tahun 1955, para pemimpin Afrika mengikuti Konferensi Asia Afrika di Bandung," ujar Ketua Umum PDIP, Hasto Kristiyanto, yang turut mendampingi Megawati bertemu dengan Presiden Zuma pada Rabu (8/3/2017).

"KAA dengan semangat dasasila Bandung telah membawa spirit kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Asia Afrika," kata Hasto.

Sukarno yang menjadi salah satu pelopor dan memiliki peran signifikan dalam KAA 1955, menjadi alasan mengapa pria kelahiran 6 Juni 1901 itu diberi gelar pahlawan oleh Afrika Selatan.

Sementara itu, Syekh Yusuf diberi gelar pahlawan oleh Afrika Selatan karena dianggap sebagai sosok yang menginspirasi Nelson Mandela, revolusioner anti-apartheid asal Afsel yang mendunia.

Seperti dijelaskan Hasto, Nelson Mandela tahan menghadapi penderitaan di penjara selama puluhan tahun karena terinspirasi dari perjuangan Syekh Yusuf.

"Syekh Yusuf rela dibuang dari tanah airnya, hanya karena keyakinan politiknya bahwa Indonesia suatu saat bisa merdeka. Spirit tersebut yang membuat Nelson Mandela bisa bertahan di bawah penderitaan penjara," ujar Hasto kepada awak media.

Seperti dilansir Wikipedia, Syekh Yusuf yang memiliki nama lengkap Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani, lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada 3 Juli 1626.

Syekh Yusuf sempat beberapa kali ditangkap dan diasingkan oleh Belanda. Ia wafat di pengasingan terakhirnya, yakni di Cape Town, Afrika Selatan.

Di Afrika Selatan, ia tetap berdakwah dan memiliki banyak pengikut. Tanah kelahirannya, Makassar, dijadikan nama sebuah kampung di Afrika Selatan. Bahkan, Nelson Mandela menyebutnya sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik'.

sumber : liputan6 

Silahkan di share! Bangga menjadi Indonesia!

Jumat, 03 Maret 2017

Brigadir AL FAGHM, Bodyguard SETIA Raja SALMAN Berkekuatan Seperti KOPASSUS!

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud akan berkunjung ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017. Rencananya, dalam kunjungannya ke Indonesia, Ia akan membawa 1.500 anggota delegasi, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran.

Tapi, satu sosok yang pasti akan masuk foto para wartawan, justru bukanlah pangeran maupun kerabat sang raja. Sosok itu adalah seorang pria gundul, berbadan tinggi tegap, memakai setelan jas rapi, dan punya sorot mata yang tajam.
Siapa dia?

Ya, pria gundul itu adalah Brigadir Jenderal Abdul Aziz Al-Faghm.

Dia merupakan jebolan kesatuan pasukan elit Arab Saudi.
Penulis sekaligus pakar perang dan militer, Thomas Wictor, menulis, Abdul Aziz Al-Faghm merupakan satu dari sedikit tentara di Saudi yang punya kualifikasi komplet.

Berikut, 5 fakta menarik soal Brigjen Al-Faghm :

1. Skill Komplet, Mulai Pilot Sampai Penjinak Bom
Berbagai badge (tanda lulus pendidikan militer) yang telah dimilikinya antara lain badge Pasukan Khusus, serta badge Pasukan Rahasia Anti-Terorisme Saudi.

Selain badge itu, Abdul Aziz Al-Faghm punya badge pelatihan terjun payung dari sejumlah pasukan elit Amerika Serikat, yakni US Army Master Parachutist jump wings dan US Navy Master Parachutist jump wings.

Tak hanya piawai soal bertempur di darat, Abdul Aziz Al-Faghm juga bisa menerbangkan pesawat maupun helikopter dalam kondisi darurat. Hal itu ditunjukkan dari badge Saudi Air Force pilot’s wings yang ia miliki. Lalu, badge Saudi Combat Diver, merupakan bukti bahwa menyelam di laut, adalah kemampuan yang mudah saja baginya.

Ia bahkan dikenal punya kemampuan menjinakkan bahan peledak, dari badge penjinak bom yang dimilikinya.
Semua badge itu dimiliki oleh Abdul Aziz Al-Faghm melalui pelatihan selama lebih dari 10 tahun.

2. Tua Hanya Usianya
Sebagai seorang tentara berpangkat brigadir jenderal, Abdul Aziz Al-Faghm diyakini telah berusia sekitar 50 tahun.
Tapi, penampakan fisiknya seringkali membuat orang kagum.
Fisik tubuhnya masih tegap, kekar, dan terjaga.
Menurut Thomas Wictor, kekuatan fisiknya bahkan disebut-sebut masih bisa menandingi seorang tentara di usia 20 tahunan.

Lihat saja fotonya saat mengawal Raja Salman di Malaysia, 27 Februari 2017. Ia masih terlihat bak aktor film laga, ketimbang seorang perwira tentara berusia 50 tahunan.

3. Bukan Hanya Ahli Teori
Brigjen Abdul Aziz Al-Faghm lulus dalam banyak pelatihan militer. Apakah dia hanya ahli teori saja?

Tidak. Dia telah mendapat penghargaan Order of Bravery, sebuah penghargaan tertinggi untuk para prajurit tangguh di Saudi, tidak hanya sekali, tapi beberapa kali.

Asal tahu saja, menurut Thomas Wictor, untuk meraih penghargaan ini, seseorang harus ikut dalam perang fisik atau terjun sebagai prajurit kombatan.

Dengan melihat fotonya saat berada di sisi Raja Salman, Thomas Wictor memuji Brigjen Abdul Aziz Al-Faghm sebagai orang yang sangat teliti dan disiplin dalam melindungi raja. 
Hal itu terlihat dalam posisi tangannya ketika berjalan melindungi Raja Salman. Posisi tangan itu menandakan ia selalu dalam posisi siaga.

4. Kesetiaan Tak Diragukan
Apakah skill komplet adalah satu-satunya alasan mengapa Raja memilihnya sebagai pengawal pribadi?
Bukan.

Ada lagi alasan lain yang diyakini membuat Raja Salman susah berpaling darinya. Hal itu adalah kesetiaan alias loyalitas. Brigjen Abdul Aziz Al-Faghm telah menjadi pengawal raja selama lebih dari 10 tahun.

Itu artinya, sebelum mengawal Raja Salman, dia juga mengawal Raja Arab Saudi sebelumnya, yakni Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud, yang mangkat pada 23 Januari 2015.
Saat Raja Abdullah mangkat dan dimakamkan, Al-Faghm menjadi pengawal terdepan iring-iringan penggotong jenazah Raja Abdullah.

Saat itu, fotonya mengawal iring-iringan jenazah menjadi viral. Banyak warga Arab Saudi menaruh haru kepadanya.
Pasalnya, ia harus sebisa mungkin menjaga emosi di momen itu. Banyak yang meyakini ia terpukul dengan kematian Raja Abdullah, tapi ia tetap tegar tak menangis di pemakaman itu.
al faghm bodyguard raja arab saudi

5. Titisan Sang Ayah
Al-Faghm lulus dari akademi militer King Khaled Military College di tahun 1991. Dia lalu lolos masuk ke unit pasukan khusus Arab Saudi, sebelum akhirnya terpilih masuk ke Royal Guard, atau pasukan khusus kerajaan. Hanya orang-orang terpilih yang dipercaya masuk ke kesatuan ini.

Yang menarik, ayah dari Al-Faghm, ternyata juga menjadi abdi Raja Arab Saudi sebelumnya, selama 30 tahun.

sumber : tribunnews

Minggu, 08 Januari 2017

Menolak Lupa! Sederet Perilaku "Buruk" Australia Terhadap Indonesia

Banyak yang mengatakan bila Indonesia adalah raksasa yang sedang tidur (The Sleeping Giant). Meski begitu, jangan pernah mengusiknya jika tidak ingin “dimakan”. Walaupun tetangga dekat, Australia lagi-lagi mengganggu Indonesia.
Padahal, empat tahun lalu, Negeri Kanguru itu tercoreng namanya setelah terungkap melakukan aksi penyadapan yang dilakukan Badan Intelijen Australia (Australian Signal Directorate/ASD).

Kala itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung bereaksi keras dan tegas, yakni menghentikan sejumlah kerjasama yang selama ini sudah terjalin. Pertama, Indonesia menghentikan kerjasama pertukaran informasi dan pertukaran intelijen.
Kedua, Indonesia menghentikan kerja sama latihan militer tiga matra dengan Australia. Ketiga, Indonesia menghentikan kerja sama terkait masalah penyelundupan manusia (people smuggling). Kasus tersebut seperti tidak membuat Australia kapok “menyenggol” Indonesia.

Perjalanan berliku

Bukan baru kemarin Indonesia dengan Australia menjalin kerja sama pertahanan. Sejarah membuktikan, kedua negara sudah menjalin hubungan di bidang itu selama 70 tahun.

Hubungan itu dimulai pada 1947. Kala itu, pengamat militer Australia datang ke Indonesia sebagai utusan PBB untuk mengawasi gencatan senjata antara pasukan Indonesia dan Belanda.

Sampai saat ini, kerjasama militer kedua negara masih terjalin. Latihan militer, kerjasama pertahanan dan forum dialog kedua negara sering digelar.
Kerjasama dalam bentuk operasi bersama juga sering dilakukan. Di bidang pendidikan militer, pertukaran pelajar baru, logistik, juga dijalin kedua negara.
Salah satu kerjasama forum dialog adalah forum Indonesia-Australia. Forum dialog yang terbentuk pada 2001 ini awalnya bernama Pertemuan Informal Indonesia-Australia.

Tapi pada pertemuan ke-2 di Yogyakarta, kedua delegasi sepakat untuk memberi nama Indonesia-Australia Defence Strategic Dialogue (IADSD). Forum digelar secara bergantian, di Indonesia dan Australia.

Selain itu ada perjanjian bilateral antara Indonesia-Australia yang dirumuskan dalam Traktat Lombok 2008. Perjanjian ini meliputi 10 bidang, antara lain kerjasama bidang pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, anti-terorisme, dan keamanan maritim.

Perjanjian ini menegaskan prinsip-prinsip saling menghormati dan mendukung kedaulatan, integritas teritorial, kesatuan bangsa dan kemerdekaan politik setiap pihak, serta tidak campur tangan urusan dalam negeri masing-masing.
Berdasarkan data berikut rekam jejak Australia yang kerap “mengganggu” Indonesia:

Pembebasan Irian Barat

Pada 1959-1962, pemerintah Australia berpihak kepada pemerintah Belanda selama perjuangan Indonesia menentang pemerintahan Belanda di Irian Barat.
Pada saat itu Partai Komunis Indonesia mulai berpengaruh dan ada kekhawatiran di Australia mengenai pengaruh itu. Dikhawatirkan bahwa integrasi daerah jajahan Belanda yang dulu disebut Nugini Barat itu dengan Indonesia akan memperluas pengaruh komunisme.

Masalah tersebut di atas menimbulkan ketegangan terhadap hubungan antara Australia dan Indonesia. Akhirnya dirundingkanlah penyelesaian pada 1962, dengan bantuan PBB, dan Irian Jaya menjadi provinsi Indonesia yang ke-26.
Sejak 1962, Australia telah mengakui Irian Jaya (yang sejak awal 2002 disebut Papua) sebagai bagian integrasi dari Republik Indonesia.

Konfrontasi Malaysia

Periode 1963-65 terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Australia dan Indonesia mempunyai pandangan yang berlainan mengenai pembentukan negara Malaysia. Daerah bekas jajahan Inggris ini meliputi Malaya, Sarawak, Sabah, dan Singapura. Namun, pada 1965, Singapura pisah dari Malaysia.

Sebagai sebuah Negara Persemakmuran, Malaysia mempunyai kaitan yang penting dalam hubungan militer dan pendidikan dengan Australia. Angkatan Bersenjata Australia sebelumnya telah membantu tentara Malaysia dan Inggris dalam perjuangannya melawan gerilya komunis yang aktif di Malaysia.

Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno waktu itu menyebut Malaysia sebagai rezim ciptaan neo-kolonialis dan menganggapnya ancaman bagi Indonesia. Australia waktu itu terus mendukung Malaysia dan semakin mengkhawatirkan perkembangan komunisme di Indonesia.

Australia juga mengkhawatirkan adanya pendekatan konfrontasi yang digunakan Indonesia untuk menghadapi Malaysia. Akhirnya tentara Australia, yang mendukung Pemerintah Malaysia, terlibat dalam pertempuran dengan tentara Indonesia di Borneo (sekarang Kalimantan).

Masalah tersebut di atas terpecahkan setelah diangkatnya Soeharto sebagai Presiden menggantikan Soekarno pada 1966. Satu tahun berikutnya, Australia memberikan dana bantuan untuk membantu membangun kembali ekonomi Indonesia.

Integrasi Timor Timur

Peristiwa-peristiwa sekitar integrasi Timor Timur dengan Indonesia pada 1975-1976 telah ikut memegang peranan dalam hubungan Australia-Indonesia. Sesudah Portugis meninggalkan bekas daerah jajahannya, terjadi perselisihan di antara berbagai kelompok politik di Timor Timur.

Angkatan Bersenjata Indonesia memasuki Timor Timur pada Desember 1975 dan kawasan ini menjadi satu dengan Republik Indonesia satu tahun berikutnya. Hal ini menyebabkan perdebatan di Australia.

Di samping itu, kematian lima wartawan Australia di Timor Timur telah menjadi perhatian masyarakat Australia dan media massa. Australia mengakui kedaulatan Indonesia atas Timor Timur secara de jure (atas nama hukum) tiga tahun kemudian.

Kemerdekaan Timor Timur

Dinamika politik dalam negeri Indonesia telah berubah secara dramatis dengan jatuhnya Pemerintahan Presiden Soeharto. Pada Januari 1999, diumumkan bahwa Indonesia akan menawarkan otonomi khusus kepada Timor Timur.

Jika rakyat Timor Timur menolak tawaran ini, maka Indonesia akan menerima pemisahan diri Timor Timur dari Republik Indonesia. Tepat 5 Mei 1999, PBB, Indonesia dan Portugis menandatangani Perjanjian Tripartit yang menyatakan bahwa PBB akan menyelenggarakan jajak pendapat di Timor Timur.

Rakyat diminta memilih apakah Timor Timur tetap menjadi bagian dari Indonesia atau menjadi negara merdeka. Pada 30 Agustus 1999, rakyat Timor Timur memilih merdeka (78,5%).

Australia memainkan peranan pokok dalam memobilisasi tanggapan internasional terhadap krisis kemanusiaan yang membayang nyata. Jakarta menyetujui keterlibatan pasukan keamanan internasional pemelihara keamanan.

Australia diminta oleh PBB untuk memimpin angkatan tersebut, dan menerima tugas ini. Kekuatan internasional di Timor Timur atau International Force in East Timor (INTERFET). Pada 20 Oktober 1999, Majelis Permusyawaratan Rakyat mencabut keputusan penyatuan Timor Timur dengan Indonesia.

Peristiwa-peristiwa ini telah menimbulkan ketegangan dalam hubungan Australia-Indonesia dalam jangka pendek tersebut. Namun, kedua negara telah sepakat untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan.

Pencari Suaka Papua

Pada 2006, sebanyak 43 warga Papua meminta suaka politik ke Australia. Kala itu, pemerintah Australia memberikan visa perlindungan sementara (temporary protection visa) kepada 42 dari 43 warga Papua.

Hal ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono marah dan menarik Duta Besar Indonesia untuk Australia, Hamzah Thayeb, ke Jakarta.

Pemerintah Indonesia menyatakan tidak bisa menerima keputusan Australia yang telah memberikan visa tinggal sementara kepada 42 warga Papua dan menganggap Canberra menerapkan standar ganda dalam kasus pemberian visa tinggal sementara.

Ketegangan berakhir saat Presiden SBY dan Perdana Menteri Australia John Howard bertemu dan sepakat untuk menormalisasi hubungan bilateral dan saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah.

Insiden Gubernur DKI Sutiyoso

Satu tahun setelah kasus pencari suaka Papua, tepatnya 29 Mei, Polisi Negara Bagian New South Wales tiba-tiba menggeledah kamar hotel tempat menginap Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso.

Ia diminta paksa oleh kepolisian setempat untuk menghadiri sidang terkait dengan kasus terbunuhnya lima wartawan asing di Balibo, Timor Timur, pada 1975.
Dua polisi federal, yaitu Sersan Steve Thomas dan Detektif Senior Constable Scrzvens, menerobos masuk ke kamar hotel tempatnya menginap di Hotel Shangri-La, Sydney. Atas insiden itu, Sutiyoso menuntut pemerintah Australia memberikan klarifikasi dan meminta maaf atas pelecehan dan sikap tidak terpuji yang dilakukan Polisi Federal Australia.

Apalagi, ia berada di Australia sebagai pejabat negara resmi atas undangan resmi. Dua hari kemudian, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer, melayangkan surat permintaan maaf dari Perdana Menteri Negara Bagian New South Wales (NSW), Morris Iemma.

Penyadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Pada 20 November 2013, Presiden SBY mengambil langkah tegas atas aksi penyadapan yang dilakukan Badan Intelijen Australia, yakni dengan menghentikan sejumlah kerjasama yang selama ini sudah terjalin.

Ia juga menyampaikan surat protes ke Perdana Menteri Tony Abbott. Berdasarkan hukum yang berlaku pada kedua negara, kegiatan penyadapan tidak diperbolehkan.
Selain menabrak hak-hak asasi manusia, aksi spionase tentu juga berkaitan dengan moral dan etika sebagai sahabat, tetangga dan rekan kerja.

Yang terbaru, tepatnya 29 Desember 2016, seorang perwira Komando Pasukan Khusus TNI AD menjadi instruktur Bahasa Indonesia di Akademi Pasukan Khusus (SAS) Australia di Perth, menemukan materi yang dianggap menghina Indonesia.
Pelecehan ideologi bangsa Indonesia itu ditemukan ketika sang perwira bertugas memberikan pelatihan. "Pada saat mengajar di sana, ditemukan hal tidak etis sebagai negara sahabat yang mendiskresikan TNI dan bangsa Indonesia, bahkan ideologi bangsa Indonesia," kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, di Jakarta, Kamis, 5 Januari 2017.

Ia pun merincikan bentuk pelecehan yang dilakukan Australia, seperti dalam kurikulum dan sistem pelajarannya. "Tentang-tentara yang dahulu, Timor Timur (Timor Leste) dan Irian Jaya (Papua), juga harus merdeka dan tentang Pancasila yang dipelesetkan menjadi Pancagila. Tidak benar," ungkapnya menegaskan.
Menteri Pertahanan Australia, Marise Payne, langsung meminta maaf dan telah memeriksa masalah serius yang disampaikan dan akan menyelidiki permasalahan tersebut. Ia mengakui bahwa Indonesia juga telah menyampaikan penangguhan kerjasama dengan Australia.

"Indonesia telah menyampaikan penangguhan kerjasama pertahanan kepada Australia. Sebagai akibatnya, beberapa interaksi antara dua lembaga pertahanan akan ditunda sampai masalah ini diselesaikan. Namun kerja sama di bidang lain masih terus berlanjut," kaya Payne, melalui pernyataan tertulis di situs Kementerian Pertahanan Australia.

Masalah prinsip

Selain Menhan Australia, Gatot membenarkan adanya permintaan maaf dari Panglima Angkatan Bersenjata Australia kepada Indonesia terkait insiden pelecehan ideologi Indonesia. Pangab Australia, Marsekal Mark Donald Binskin, telah mengirimkan surat permintaan maafnya.

"Saya dengan Marsekal Binskin bersahabat. Akhirnya, dia mengirim surat kepada saya untuk meminta maaf. Kedua, akan memperbaiki kurikulum. Ketiga, akan melaksanakan investigasi," terangnya.

Melalui surat itu pula, Australia segera mengirim kepala staf angkatan untuk menemuinya dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Mulyono. Sayangnya, Gatot tidak menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan perwira tinggi militer Australia itu.

Menurut Gatot, kurikulum yang melecehkan ideologi bangsa Indonesia itu telah lama diajarkan di Australia. Sehingga Indonesia menunggu, sampai kapan investigasi itu dilakukan. "Dari pernyataan Mark tersebut, dia menyatakan akan menghentikan kurikulum itu, dan akan melaksanakan tim investigasi," kata Gatot.

Presiden Joko Widodo pun mengambil sikap. "Saya sudah menerima laporan dari Panglima TNI dan dari Menteri Pertahanan (Ryamizard Ryacudu). Masalah ini biar di-clear-kan dulu. Ini masalah prinsip," kata Jokowi.

Tak hanya itu, ia juga mengingatkan bahwa kedua negara telah sepakat untuk saling menghormati, saling menghargai dan tidak campur tangan atas urusan dalam negeri masing-masing.

"Saya kira kita sepakat itu. Saya kira hubungan kita dengan Australia masih dalam kondisi yang baik-baik saja. Hanya mungkin di tingkat operasional ini masih perlu disampaikan agar situasinya tidak panas. Saat ini, masalah itu sudah saya perintahkan untuk ditangani oleh Menhan dan Panglima TNI," ungkap dia.
Ditanya soal mekanisme penghentian kerjasama militer kedua negara, apakah cukup melalui Panglima TNI atau harus melalui Presiden, Jokowi menjawab secara diplomatis.

"Sudah disampaikan ke saya. Sudah disampaikan ke saya, artinya kan sudah disampaikan ke saya," kata Jokowi.

Untuk itu, pemerintah Indonesia mengharapkan sekali lagi penjelasan dan sikap resmi Australia atas penyadapan tersebut.

Sumber : fanspage Teknologi dan Strategi Militer